, Kebodohan, dan Karma

 Mungkin hadirmu dalam kehidupanku merupakan pembelajaran paling besar. Kuserahkan semua cinta, air mata, ketulusan, hingga aku kehilangan banyak hal. Kamu adalah pembelajaran paling menyakitkan selama hidupku. Hadir dengan tak sengaja dan tak sadar. Aku tak tau hendak kudefinisikan seperti apa perasaanku ini. Entah rindu yang bajingan itu, atau dendam yang mungkin tak akan bisa kulupakan. Begitu mudah dan remehnya kamu berbicara tentang melupakan dan masa depan. Sedangkan, telah kau hancurkan segala dunia yang memberiku warna. Aku tak ingin bertemu denganmu lagi. Namun satu-satunya yang ingin kulakukan adalah membantu keluargamu, setelah kubuktikan aku mampu mengurus keluargaku ini. 

Seharusnya aku tak pernah mengenalmu. Mengenalmu dan menghabiskan waktu bersamamu merupakan waktu yang sangat sia sia. dan aku membenci itu. 

Aku tak ingin bertemu denganmu, aku tak mau berurusan denganmu. 

Jangan pernah kau tanyakan tentang perasaanku yang telah hancur lebur bersamaan dengan hancurnya hidupku. Aku tak ingin merasakan kehancuran untuk kedua kalianya. Diriku ini berhak membahagiakan orang yang benar tulus menyayangiku. Mengenai bagaimana rusaknya aku sekarang, aku tak akan peduli. Bahkan kuharap perasaanku mati saja hingga yang hanya dapat kugunakan adalah logika. Karna dengan logika, kakiku, mataku, tak akan mengarah pada wujud yang paling menyakitkan dalam kehidupanku. 

Kamu hadir membuat luka dan trauma. Apakah pantas saat ini dirimu tertawa dengan segala kebodohan yang kau lakukan?

Aku membencimu. Ingin  melupakanmu.

............... 

Tak perlu berpanjang. Kamu tak akan pernah mampu memahaminya. Selamat tinggal. 


Posting Komentar

0 Komentar