Pengakuan

Apa yang ingin kau ajukan pada dunia? 
Bisa jadi aku menulis ini karena keadaanku yang sedang terpuruk oleh kesalahan. Suasana menjadi dramatis sekejap, dan pemikiran bahwa manusia hanyalah benda yang datang silih berganti menjadi topik utama pergelutan dalam benak. 

Aku cukup lama dipandang bersih secara kasat mata. Namun sesungguhnya, bersih dan kotornya manusia tak ada harganya dihadapan manusia lainnya. Satu-satu kebenaran yang mutlak hanya milik yang memiliki kebenaran itu sendiri. Siapa ia? Kita tau sendiri jawabannya. 

Nanti petang, aku menghadiri sidang, setelah setengah hari ini menjadi tersangka atas pelanggaran berboncengan motor dengan laki-laki bukan mahram dan baru kembali ke asrama pukul setengah tiga pagi. Aku tak akan membela diriku, karena memang aku bersalah. Tulisan ini kubuat bukan untuk pembelaan itu, karena begitulah aturan. Bodohnya aku telah melanggarnya. Ada banyak hal yang menjadi pertanyaan diusiaku ini. Fungsi dari tulisan ini adalah aku ingin mengajukannya.  

Ruangan yang kutempati sekarang gelap, sengaja tak ku hidupkan lampu agar suasana begitu mirip dengan penghukuman. Ingin aku menghukum diriku atas dosa dosa yang kulakukan. Semakin lama memang aku menyadari bahwa kehidupan ini memang permainan. Permainan yang akan dimenangkan oleh mereka-mereka yang kuat dan memiliki hati yang tulus dan jernih. Aku tak tau apakah aku bisa bermimpi menjadi para pemenang itu, terlebih melihat diri yang begitu kotor dan kecil. Benar-benar tak pantas untuk memimpikannya. 

Saat ini aku buta, dan karena buta yang telah lama ku idap, kini kurasakan hukumannya. Bagaimana aku akan hidup di kemudian hari? Aku mungkin akan tau begitu persidangan nanti dimulai. Pantaskah aku takut dengan dosa yang kubuat sendiri? Aku menyesal. Namun siapa yang akan memerdulikannya. Sekalipun aku matipun, orang orang hanya akan menguburkan dan meninggalkanku sendiri. Begitulah membosankannya kehidupan. Semuanya serupa. 



Posting Komentar

0 Komentar