ITU


Sahabatku Sovia, baru saja bertanya padaku.

Ini tentang dengan siapa kita akan bergendengan untuk berjalan menyisiri pantai waktu. Sebut saja, rekan perjalanan. Tak sulit menjawab pertanyaan Sovia yang minimalis anti-sosial itu, aku sendiri juga merasakan bahwa kita tak perlu menjadi seseorang yang dicintai oleh semua orang. Cukup menjadi diri sendiri, dan mengahbiskan waktu bersama orang yang kita cintai. Dicintai semua orang? Rasanya tak mungkin. Wahai kawan! Realistis itu perlu agar kita tak berjalan diatas awan. Akan sakit nantinya. Idealis? Come on…, Bukan berarti aku juga mengharamkan kita untuk menjadi idealis. Justru dengan idealislah kita akan merasakan bahwa kehidupan dunia ini bukanlah apa-apa jika kita mau berusaha. Wait,. Kita tak akan memperdebatkan ini, kan? Hehe.. maafkan aku yang memang suka ngalor ngidul nggak jelas.
Kembali pada topik, siapakah orang yang kita pilih untuk kita perjuangkan. Jujur saja, seperti jawabanku di whatssapp “Menurutku, keluarga dan sahabat uda cukup untuk menjadi rekan perjalanan kita, jikapun kita ingin meminta lagi, adakah manusia lain yang dapat dipercaya?” . Jawabanku membuat Sovia tertawa, “Engga juga sih, Sal, aku liat kamu bisa dekat sama semua orang. Maksutku tuh kita cuman kenal keluarga, kamu sama Nafis, keluarga, kamu sama Nafis, dah cukup, ngga perlu orang lain”
OH MY GOD! Cukup sudah! Ini juga alasanku memilih itu, Agar bisa menjadi pundak bagi mereka-mereka semua yang membutuhkanku. Perawatan dariku, aku siap mendengarkan dan memelukmu. Jangan bersedihh. Allah Stay Your Side.

Posting Komentar

2 Komentar

Beri kami kritikan atau saran yang membangun. terimakasih..